Prolog

Separuh Napas


Prolog

Perkenalkan Namaku Yohan William, Kebanyakan orang memanggilku Yohan. Jika di tanya siapa saja Orang yang paling berarti dalam hidupku, tentu sudah pasti Kedua Orang tuaku, Rumah pertama untuk diriku yang telah di berikan oleh tuhan, lalu selanjut nya adalah Sahabat ku, Teman ku, dan keluarga ku Bima Satria dan Anbiya Khaelany.

Kami bertiga sudah bersama sejak masa kanak-kanak, suka maupun duka sudah kami rasakan bersama dan hal yang paling kami benci ketika di paksa untuk tidur siang. Aku tidak pernah menyangka bahwa persahabatan kami perlahan menjadi sandaran bagi hidup kami bertiga.

Jika ada orang yang bertanya padaku,  "Apa itu arti cinta?" Aku selalu menjawab dengan sederhana, "Yah menurutku cinta itu adalah perasaan yang Tuhan kasih untuk saling mencintai dan memahami."

Saat mengucapkan nya, aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari aku akan menemukan cinta yang belum pernah aku rasakan sebelum nya. Cinta yang menguatkan, cinta yang menenangkan, cinta yang menyakitkan, bahkan cinta yang diam-diam menunggu tanpa pernah diminta.

Waktu berjalan lebih cepat dari yang kukira. Masa kecil kami berubah menjadi masa putih abu-abu, tempat takdir mulai memperkenalkan seseorang lain dalam hidupku, Adelia Anzani seorang gadis yang kutemui di SMA Sriwijaya. Gadis yang membuat pandangan ku arti cinta berbeda bukan hanya sekedar kalimat sederhana yang biasa ku ucapkan.

Tidak terasa hidupku mulai di kelilingi oleh cinta dari orang-orang istimewa bagi diriku, orang tuaku, dan sahabatku, Cinta yang di bawa oleh mereka terasa berbeda-beda, ada cinta yang terkadang saling menguatkan, cinta yang saling bertentangan atau bahkan saling melukai.

Aku tidak tahu bahwa setiap langkah yang kuambil akan membawa mereka semakin dekat pada perpisahan yang tidak pernah mereka bayangkan. Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti, napasku akan menjadi separuh napas bagi orang-orang yang mencintaiku dengan cara mereka sendiri.

Ada cinta yang tumbuh karena kebiasaan. Ada pula cinta yang datang tiba-tiba menghantam seperti angin yang tak pernah memberi tanda. Dan di akhir nanti biarlah mereka yang melanjutkan kisah ini tanpa diriku, 

Komentar