CHAPTER 4: API MEMBESAR
Keesokan paginya, aku datang ke sekolah tanpa ekspektasi apa pun. Sama seperti biasanya. Sama seperti hari-hari lain ketika aku pikir semuanya berjalan normal. Tapi ternyata tidak. Begitu aku menjejakkan kaki di gerbang SMA Sriwijaya, hal pertama yang kulihat adalah dia. Adelia. Cewek yang bikin hidupku naik turun kayak grafik saham global dalam semalam. Ia berdiri di depan kelas dengan tangan terlipat, seolah menungguku lewat hanya untuk memulai peperangan kecil kami sehari-hari. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi, wajahnya sudah setengah kesal padahal aku belum melakukan apa-apa. “Bagus,” gumamku. “Pagi-pagi udah ada masalah.” Bima yang berjalan di sampingku ngakak. “Bro… itu namanya bukan masalah. Itu namanya takdir.” “Takdir apaan?” “Takdir lo ribut tiap hari ama cewek yang sama.” “Bim, sumpah gue lagi nggak mau berantem.” Tapi tampaknya semesta punya selera humor sendiri. Karena begitu aku lewat, Adelia langsung meluncurkan kalimat khas penyulut pertengkaran kami. “Lu...