CHAPTER 3: TIGA SERANGKAI
Saat pulang, kami bertiga selalu kumpul diparkiran sekolah untuk pulang bersama, yang kebetulan SMA Anbiya berada disebelah SMA-ku. Perbatasan kedua sekolah hanya dipisahkan pagar tinggi yang catnya sudah mulai terkelupas. Tapi bagi kami bertiga aku, Yohan, dan Bima pagar itu tidak pernah membatasi apa pun. Itu hanya jadi latar belakang dari rutinitas yang sudah kami jalani bertahun-tahun.
Setiap pulang sekolah, kami selalu bertemu di tempat yang sama, sebuah sudut parkiran dekat pohon ketapang besar. Tempat itu bukan sekadar titik kumpul. Itu rumah kecil setelah rumah sebenarnya. Tempat kami melempar keluh, tawa, marah, dan segala hal yang tidak bisa kami bagi kepada siapa pun.
Dan hari ini, seperti biasa, aku, Yohan mengambil langkah cepat menuju parkiran sambil merapikan seragam yang asin oleh keringat.
Bima sudah bersandar pada motor matic kesayangannya menungguku. Kami bertiga sudah memiliki SIM, jadi kami bebas berpergian kemana saja asal ada SIM.
“Akhirnya lu keluar juga,” Bima mendecak sambil memutar kunci motor di jarinya. “Gue kira lu diculik wali kelas.”
“Wali kelas gue mau nyulik apa coba? Ranking gue aja naik turun kaya grafik saham,” jawabku sambil menepuk pundaknya.
Belum sempat ia balas, terdengar panggilan dari pagar pembatas.
“Yohan! Bima!” suara itu jelas. Lembut. Bergetar halus oleh semilir angin sore.
Anbiya.
Ia berdiri di balik pagar, merapikan rambutnya, dan tersenyum yang, entah kenapa selalu terasa paling tulus.
“Lu lama banget,” Anbiya menggerutu sambil menyelipkan tangannya di sela pagar, seakan ingin mengetuk kepala kami berdua.
“Gue nggak lama, sekolah lu yang kepagian pulangnya,” jawabku santai.
“Excuse me,” Bima angkat jari, “yang tadi sibuk ribut sama cewek kelas X-1 itu siapa, hah? Jangan lempar kesalahan ke orang lain.”
Aku terdiam sejenak. Oke. Itu benar.
“Oiya, itu si Adelia,” gumamku dengan nada yang tidak kusengaja terdengar kesal.
Mendengar nama itu saja rasanya sudah bikin suhu badan naik.
Anbiya terkekeh kecil. “Kalian berdua abis apalagi? Pagi udah ribut, siang tabrakan di koridor, sekarang sore masih kesel?”
“Lu liat dari jarak jauh?” Bima menatap penasaran.
“Udah kebiasaan. Yohan sama Adelia kalau lewat bareng vibes-nya itu udah kayak… apa ya…”
Anbiya mengangkat telapak tangan.
“Kayak api kena bensin.”
Aku dan Bima tertawa keras. Tapi buatku, didalamnya, ada sesuatu yang mengganggu. Bukan tentang Adelia, tapi tentang cara Anbiya memperhatikan. Ia selalu hafal hal-hal kecil tentangku. Bahkan hal yang kadang tidak kusadari.
Tapi aku tak pernah benar-benar memikirkan itu.
Setidaknya, belum saat itu.
Perjalanan pulang selalu diserambi oleh suasana hangat. Bima bercerita tentang hal random seperti biasa, sambil mengendarai motor.
Anbiya yang aku boncengi mendengarkan cerita Bima itu, sesekali ia memberi komentar lembut, dan aku mengendarai motor sambil sesekali mencuri pandang lewat spion.
Bukan ke jalan. Tapi ke Anbiya, ada sesuatu pada senyumnya setiap kali mendengarkan cerita kami. Ada sesuatu pada suaranya setiap kali memanggil namaku. Tapi saat itu aku tidak pernah berpikir jauh.
Tidak pernah sadar. Bahwa semua itu bukan sekadar kebiasaan.
Bahwa semua itu sebenarnya cinta kecil yang ia simpan sendirian selama bertahun-tahun.
Cinta yang aku, bodohnya, tidak lihat sama sekali.
***
Kami tiba di rumahku, seperti rutinitas setiap hari.
Pintu rumah selalu terbuka untuk Anbiya dan Bima. Ibuku bahkan sudah hafal minuman kesukaan mereka.
“Minum dulu,” ujar ibu sambil meletakkan tiga gelas jus mangga dingin di meja ruang tamu.
“Thank you tante!” jawab mereka kompak.
Aku duduk di karpet, membuka buku pelajaran seadanya. Meski sebenarnya, fokus kami lebih sering lari ke hal-hal absurd daripada belajar.
“Han,” suara Anbiya memecah kesunyian, “kenapa sih lu bisa segitu bencinya sama Adelia?”
Aku menoleh cepat. “Benci dari mana? Gue nggak benci.”
“Lu serius mau bohong sama gue?” Ia menaikkan alis.
“Dari tadi lu ngomel tiap nyebut nama dia,” Bima ikut menimpali.
Oke. Dua lawan satu. Tidak adil.
“Gue cuma kesel aja. Dia tuh nyebelin, suka sok-sokan, terus..”
“Terus lu kesel karena dia nggak gampang lujelekkin?” Anbiya memotong dengan senyum iseng.
“Apa sih…”
“Yohan,” katanya sambil menatapku lurus.
“Terkadang orang yang paling lo kesel sama dia di awal adalah orang yang nanti lo bakal paling susah dilepas.”
Aku mengerutkan kening. “Apa maksud lu?”
“Nggak ada,” jawabnya cepat.
Terlalu cepat.
Ia mengalihkan pandangan ke gelas jus mangga, tapi aku melihat jelas di matanya—ada sesuatu yang ia tahan. Sesuatu yang ia sembunyikan rapat-rapat. Sesuatu yang saat itu belum kumengerti.
Bima, dengan gaya sok dewasa, hanya mengangkat bahu.
“Cewek kalau ngomong pake kode. Udah biasa.”
Kami semua tertawa.
Tapi saat itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda pada Anbiya hari itu.
Senyumnya yang biasanya cerah, tiba-tiba tampak seperti senyum yang dibuat-buat. Tatapannya yang biasanya hangat, terasa sedikit lebih sayu. Seolah, ia sedang mencoba menerima sesuatu yang bahkan belum terjadi. Sesuatu yang bahkan aku sendiri belum menyadari.
Malamnya, setelah Bima pulang, Anbiya masih duduk di ruang tamu sambil menunggu kakaknya menjemput.
Angin masuk dari jendela, membawa aroma malam yang lembut.
“Yan,” katanya pelan, “lu bahagia nggak?”
Pertanyaan itu menghentikan gerakanku.
“Hah? Bahagia gimana?”
“Ya… bahagia. Sama hidup lu. Sama sekolah lu. Sama temen lu. Sama semuanya.”
Aku tersenyum kecil. “Lu kenapa sih nanya gitu?”
Ia menunduk, menggenggam ujung rok seragamnya.
“Gue cuma pengen tau.”
Aku menatapnya. Ada sesuatu dalam suaranya yang seperti mau pecah.
“Gue bahagia,” jawabku jujur. “Karena ada Bima, ada lu, ada… semuanya.”
Anbiya mengangguk pelan.
Tapi aku melihat, dari caranya berkedip lebih cepat dari biasanya…
bahwa sebenarnya ia ingin mendengar satu hal:
“Gue bahagia, karena ada lu.”
Tapi aku tidak mengatakannya.
Karena aku tidak tahu bahwa itu yang ia butuhkan.
Karena aku belum menyadari bahwa di balik senyum lembutnya…
ada cinta yang sejak lama tumbuh diam-diam.
Cinta yang mulai terasa berat…
tapi masih berusaha ia sembunyikan.
Saat kakaknya datang menjemput, Anbiya berdiri.
Ia melambaikan tangan sambil tersenyum tipis. “Besok ketemu lagi ya.”
“Oke,” jawabku.
Ketika pintu tertutup, aku tidak tahu bahwa sore itu adalah salah satu sore terakhir ketika semua terasa ringan. Ketika semuanya masih sederhana. Ketika semua dari kami belum terluka.
Aku tidak tahu bahwa mulai hari itu perasaannya pada aku akan mulai tumbuh semakin kuat. Dan aku justru akan semakin jauh darinya.
Karena di sekolah besok…
aku akan bertemu lagi dengan seseorang yang menyalakan api dalam hidupku.
Adelia Anzani.
Gadis yang awalnya kubenci, tapi perlahan akan menjadi takdirku. Dan bagi Anbiya, itulah awal dari luka yang akan ia simpan sendirian.
Komentar
Posting Komentar