CHAPTER 1: PERTEMUAN DAN MUSUH
CHAPTER 1: PERTEMUAN DAN MUSUH
Hari pertama saat masuk di SMA sriwijaya tidak
terbayangkan akan sangat melelahkan, yang ku kira hanya untuk perkenalan saja
tetapi ternyata di hari pertama aku bertemu dengan banyak orang, ada yang ingin
pergi ke kantor, ingin berangkat sekolah bahkan ada yang sedang berolahraga.
Aku tiba
di sekolah lebih awal dari Bima. Biasanya kami berangkat bersama, tetapi untuk
hari ini dia telat untuk pergi ke sekolah karena kesiangan, sebenarnya tadi
malam bima mengajak ku untuk pergi menonton pertandingan sepak bola bersama
tetapi aku menolak nya karena besok adalah hari pertama kami sekolah.
Gedung
SMA sriwijaya terlihat indah di pagi hari, dengan dinding berwarna biru dan
kaca-kaca besar yang memantulkan sinar matahari, di tambah di sekeliling
sekolah terdapat banyak pohon yang subur menambahkan citra asri pada sekolah.
Dikoridor
sekolah terdapat siswa-siswi baru yang sedang bercanda gurau bertemu teman
baru, ada juga yang sedang berfoto di lapangan sekolah, dan ada juga yang
tegang seperti ingin sidang skripsi.
Aku
berjalan menyusuri koridor, untuk mencari kelas Sepuluh Satu. Murid-murid berlalu
lalang, ada beberapa senior yang hanya menumpang lewat untuk menunjukkan
lencana osis di lengan nya, bertanda bahwa mereka adalah siswa maupun siswi
yang sibuk dengan tugas organisasinya, aku hanya menarik napas panjang dan
berharap bahwa hari ini akan berlangsung lancar
Tapi ternyata tuhan mempunyai rencana lain pada
diriku di hari pertama aku masuk sekolah.
***
Saat sedang melihat denah kelas di ponsel. Tiba-tiba…
BRUKKK!
Seseorang berlari dari arah berlawanan dan menabrakku
cukup keras hingga ponsel yang berada di genggamanku terlepas.
“Aduhhh!! Lo kalau jalan liat-liat dong.” suara
seorang perempuan terdengar di telingaku, suaranya begitu mengesalkan. Aku yang
jelas-jelas menjadi korban tabrakannya spontan mendongak dengan kesal.
Ketika aku mendongak, aku melihat seorang perempuan
dengan mata besar, alis tegas. Dan rambut hitam bergelombang sebahu yang
sedikit berantakan, karena ia berlari terburu-buru.
Cantik? Iya. Menyebalkan? Juga iya.
“Gue yang gak lihat jalan? gak salah nih?” kataku.
“Lo tuh yang nggak lihat jalan, jelas-jelas lo yang nabrak gue.”
Dia mendengus sembari merapikan rambutnya dengan
gerakan cepat. “Ya lo juga ngapain diam di tengah jalan gitu, siapa suruh? Ini
koridor, bukan jalanan nenek Moyang lo.”
“Siapa juga yang bilang kalau jalanan ini punya
nenek Moyang gue? Gue diem ditengah karena lagi liat denah kelas di ponsel gue.”
Balasku heran. “Lo udah tau ini koridor tempatnya orang berlalu lalang,
bukannya jalan pelan ini malah lari-larian.”
“Emangnya kenapa sih? Lo tuh kalau lagi liat denah
itu bisa pinggiran dikit biar nggak ganggu orang” ujarnya dengan sewot.
Aku hanya bisa melihatnya dengan pandangan kesal
yang seharusnya dia meminta maaf malah membela diri, padahal sudah jelas kalau
dia yang bersalah.
Aku ngedip pelan. “Hello Mbak, yang nabrak duluan tuh
lo, ya.”
Cewek itu memutar bola mata. “Gue buru-buru. Gue
nyari kelas. Lagian lo tadi..”
“Yo ngapain? Ayok ke kelas udah mau bel” suara Bima
tiba-tiba muncul dari arah belakangku dengan napas yang masih tersengal-sengal
dan jaketnya yang masih setengah dipakai.
Perempuan itu melihat kearah Bima “Oh lo temennya
ya? Tolong ajarin dia buat minggir kalau di koridor jangan ditengah jalan.” sahutnya
dengan jutek, Bima hanya membalas dengan senyuman, dan perempuan itu berlalu
pergi.
Aku dan Bima hanya menatap kepergiannya.
“Lo dapet kelas berapa
Bim?” tanyaku pada Bima.
“Sepuluh Satu, kalau
lo?” katanya.
“Sama kita bro,
yaudah yuk masuk bentar lagi bel.” ujarku kepada Bima dengan melanjutkan
perjalanan menuju kelas.
“Omong-omng cewek tadi
anak baru juga Yo?” tanya Bima.
Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Lalu Bima tiba-tiba menyeletuk “Cantik juga dia Yo”.
Aku spontan melihat Bima dengan heran “Tiba-tiba
banget Bim, lagian apa hubungannya cantik dengan nabrak orang?” protesku kepada
Bima, dan Bima yang langsung menepuk bahuku “Lo bakal sering ketemu sama dia
kayaknya Yoh”.
Aku tidak tahu saat itu bahwa perkataan Bima ternyata
benar. Aku berpikir apa yang di katanya itu hanya bercanda.
***
Kelas Sepuluh Satu terletak di lantai dua. Saat
kami masuk, perempuan itu sudah duduk dekat jendela, wajahnya menghadap keluar
seolah ingin memastikan kami tidak duduk dekatnya. Aku memutuskan duduk di
belakang, dan Bima di sampingku.
Tak lama kemudian, wali kelas kami, Pak Arya masuk.
Semua murid berdiri dan memberi salam.
“Baik anak-anak, sebelum kita mulai, kita akan
perkenalan diri dulu satu persatu.”
Aku tidak terlalu memperhatikan sampai giliran perempuan
yang nabrak aku tadi. Dia berdiri dengan menyibakkan sedikit rambutnya dan
berbicara dengan suara lebih lembut daripada waktu bertemu diriku dikoridor kelas.
“Halo Semua, perkenalkan namaku Adelia Anzani, kalian bisa memanggilku Adelia.”
Adelia.
Nama yang terdengar lembut namun sangat berbeda dengan perilakunya…sangat beterbalikan.
Ketika ia duduk dan memandang sekilas ke arahku,
kami sempat beradu pandang beberapa detik, dengan tatapan yang penuh arti “Jangan
memancing keributan disini” . Bima yang sempat memperhatikan kita berdua
akhirnya ia menyenggol bahuku “Inget Yoh masih didalam kelas” ujarnya dengan senyuman
penuh arti.
Saat pelajaran pertama dimulai. Bu Winda membentuk
kelompok untuk tugas berdasarkan posisi duduk dan tentu saja takdir memang suka
bercanda. Kami dipertemukan dalam satu kelompok yang dimana satu kelompok berisikan
empat orang di tiap baris. Aku yang tahu bahwa kami akan satu kelompok hanya
bisa memijat pelipis alisku “Astaga”. Adelia hanya bisa melihatku, sedangkan
Bima hanya bisa tersenyum menggoda.
Kelompok kami beranggotakan Bima, Adelia, Yuni, dan
Aku. Akhirnya kelompok kami mulai berdiskusi dan menetapkan tugas untuk
masing-masing orang. Adelia dan Yuni bertugas untuk mencari topik yang akan
dibahas. Sedangkan Bima bertugas mencatat informasi yang sudah dicari oleh
Adelia dan Yuni, dan aku hanya melihat mereka, karena aku kebagian tugas untuk
mempresentasikan hasil dari yang sudah kami cari.
Adelia memintaku untuk membantu mencari topik yang
tidak ditemukan olehnya dan Yuni “Yohan coba dong lo bantuin cari bagian ini.”
Aku hanya melihatnya dengan alis yang diangkat satu
“Males ah, itukan bagian lo sama Yuni bukan tugas gue buat nyari,” kataku. Adelia
yang mendengar balasanku, menatapku dengan ekspresi kesal “Ini kan buat
kelompok kita juga, kalau lo nggak mau bantuin yaudah sana keluar dari kelompok
gue.” katanya.
***
Bel istirahat berbunyi
kencang, anak-anak kelas berhamburan ada yang ke kantin ada juga yang bermain
dilapangan. Saat jam istirahat, aku dan Bima memutuskan untuk pergi ke kantin. Kantin
SMA Sriwijaya berada dilantai bawah bersebelahan dengan perpuustakaan. Kami duduk
di pojok dekat dengan warung mie ayam bakso, kami memilih untuk makan bakso
urat untukku dan bakso telur kesukaan Bima.
Bakso siap disantap, Bima
dan aku mulai meracik bumbu seperti saus, kecap, sambal. Dan cuka. Sembari
meracik, Bima membuka topik obrolan dengan memanggil namaku. “Yoh,” panggilnya.
“Hm?” balasku.
“Kayaknya Adelia masih kesel
sama lo.” Lajut Bima
“Biarlah,” jawabku sambil
menyeruput kuah. “Gue juga kesel.”
“Tapi lucu sih kalian kalau
ribut.”
Aku menatap Bima datar. “Lu
yakin itu lucu?”
“Banget. Kalian tuh kayak…
kucing sama anjing, tau nggak? Rusuh tapi seru.”
Aku mendengus. “Seru
apanya.”
“Ada spark.”
“Spark apaan?”
Bima mengangkat bahu, “Lo
bakal ngerti nanti.” ujarnya.
Aku menggeleng. Bima memang
paling jago bicara hal-hal yang belum terjadi. Namun yang aku tidak tau adalah kata-katanya
itu tidak berlebihan.
***
Siang harinya, bel pulang
berbunyi. Aku dan Bima langsung keluar gerbang sekolah menuju parkiran, tempat
kami biasanya memarkirkan motor.
Tapi sebelum sempat
melangkah jauh, seseorang berteriak dari gerbang, “Yohan!”
Aku menoleh.
Anbiya sedang berdiri di sana, bersandar sambil melambaikan tangan. Rambutnya
dikepang dua, seragam SMA lain membuatnya terlihat lebih dewasa. Tapi yang
paling mencolok adalah senyumnya, senyum yang selalu terasa nyaman.
“Anbiya!” seruku.
Dia berlari kecil
menghampiri kami. “Kalian lama banget! Gue nunggu dari tadi.”
Aku menepuk bahu Bima. “Dia
nungguin lo tuh, Bim.”
Bima hanya menoyor kepalaku.
“Sembarangan.”
Aku dan Anbiya berboncengan
sedangkan Bima sendiri. Kami bertiga jalan bareng menuju rumahku seperti biasanya.
Adelia? Ya, dia kebetulan
melihat kami dari jauh. Ia berdiri di depan pagar sekolah, memandang kami
bertiga yang sedang canda tawa di motor.
Ada sesuatu di matanya, sesuatu
yang tidak bisa aku definisikan.
Tapi aku tidak mempedulikannya waktu itu.
Seharusnya aku sadar dari
awal bahwa tatapan itu akan berarti sesuatu suatu hari nanti.
***
Sore harinya, setelah pulang sekolah, aku,
Bima, dan Anbiya berkumpul di rumahku. Rumahku sedehana, dengan halaman
belakang yang luas tempat kami sering bermain. Anbiya datang dengan kue cokelat
yang dibuatkan oleh Ibunya, wajahnya cerah seperti biasa.
“Gue kangen masa SD, tau,”
katanya sambil duduk di sofa. “Kita dulu nggak pernah mikir apa-apa.”
Aku tertawa kecil. “Iya, dulu
mikirnya hidup cuma soal main, belajar, tidur.”
Anbiya mengamatiku sebentar.
“Eh lu banyak cerita nggak tentang sekolah baru?”
Aku terdiam sejenak. Bima
langsung nyengir. “Lo cerita dong, Yoh. Cerita yang paling seru hari ini.”
Aku menghela napas. “Gue
ditabrak cewek.”
“APA?!” Anbiya langsung
duduk tegak.
“Cewek?” ulangnya,
memicingkan mata.
“Iya. Ribut lagi.”
“Cantik?” Bima menggoda.
Aku menatap Bima tajam,
“Nggak tau.”
Anbiya menunduk sedikit.
“Namanya siapa?”
“Adelia.”
“Oh…” Nada suaranya
merendah, dalam. “Kalian sekelas?”
“Iya.” Jawabku.
Anbiya tersenyum kecil, senyum
yang dipaksakan. “Berarti… kalian bakal sering ketemu, dong ya.”
Aku tidak menyadari waktu
itu
senyum itu adalah awal dari sakit hatinya.
***
Saat matahari hampir
tenggelam, Bima pulang duluan. Anbiya masih bertahan sebentar, duduk di halaman
rumah sambil memainkan daun yang jatuh.
“Yohan,” katanya lirih.
“Hm?”
“Lo baik-baik aja, kan? Di
sekolah baru?”
Aku mengangguk. “Iya. Cuma ya
gitu deh. Rame. Dan ribut pertama gue ya sama Adelia itu.”
Anbiya menatap langit. “Ribut
gitu doang mah, lo pasti bisa ngadepinnya.”
Aku menoleh, “Ya,iya sih.
Tapi kenapa tiba-tiba bilang begitu ya?”
“Ya karena gue tau lo selalu
bisa Han.”
Ada sesuatu di matanya yang
tidak bisa aku baca.
Dan sayangnya, aku tidak pernah benar-benar mencoba membaca.
Malam itu aku berbaring di
tempat tidur, aku mulai memikirkan masa kecil kami. Aku, Bima, dan Anbiya
sering kali bermain di taman dekat rumah. Anbiya selalu jadi yang paling ceria,
tenang, dan selalu mendengarkan curhatan kami. Karena itu, aku merasa aman dan damai
saat bersamanya. Tapi hari ini, dengan adanya Adelia, dunia SMA terasa lebih
hidup, meski penuh ketegangan.
Aku juga memikirkan hari
pertama masuk sekolah “Apa ini awal dari sesuatu yang besar?” gumamku sendiri.
Aku tidak tahu bahwa pertemuan itu akan mengubah hidupku selamanya. Karena hari
pertama itu, yang awalnya hanya kejadian kecil, ternyata menjadi titik awal dari
pertengkaran panjang dan menimbulkan cinta yang tak pernah aku rencanakan.
Pov Adelia
Pagi itu, aku bangun dengan
perasaan campur aduk. Hari pertama di SMA Sriwijaya, dan aku sudah telat bangun
karena malam sebelumnya aku membantu ibuku ysng sedang sakit. Ayahku meninggal
dua tahun lalu karena kecelakaan kerja, dan sekarang ibuku bekerja dua shift
untuk mmenghidupi kami. Aku harus kuat, harus jadi yang terbaik di sekolah ini.
Tas ranselku berat, penuh buku yang aku siapkan semalam.
Aku lari-lari kecil dari
gerbang menuju koridor lantai satu sambil nyari kelas X-1. Napas sudah terengah-engah,
rambut makin berantakan, jantung makin kencang. Semua itu bercampur jadi satu.
Dan puncaknya?
Aku nabrak seseorang.
BRUKKK!
“Eh! Maaf! Lo nggak liat
jalan ya?” refleksku keluar begitu saja.
Kenapa? Karena aku panik. Aku terburu-buru. Dan, mungkin sedikit defensif.
Ya ampun, malu banget rasanya.
Tapi cowok yang kutabrak itu
langsung menatapku tajam. Serius banget. Mata cokelat mudanya memancarkan
kebingungan dan… sedikit kesal.
“Gue nggak lihat jalan? Lo
tuh yang nabrak gue!” katanya.
Dalam hati “Oke, ini
cowok menyebalkan pertama di hari pertama.”
Tapi mulutku malah
bertingkah. “Ya lo juga ngapain diam di tengah jalan gitu, siapa suruh? Ini
koridor, bukan jalanan nenek Moyang lo.”
Padahal jelas dia cuma
berdiri sambil liat denah.
Padahal jelas aku yang salah.
Padahal jelas juga aku yang nggak fokus.
Tapi gengsi itu kejam.
Dan aku punya gengsi sebesar gedung sekolah ini.
Kami hampir aja lanjut ribut
sebelum seorang cowok lain muncul, temennya, yang ternyata lebih kalem. Andai
yang kutabrak itu dia, mungkin hidupku tidak akan serumit nanti.
Tapi takdir suka bercanda.
“Sepuluh satu,” jawabku
waktu cowok menyebalkan itu Yohan, bertanya aku kelas berapa.
Dan bodohnya…
MEREKA BERDUA SELEKAS
DENGANKU.
Aku rasanya ingin pergi dari
Bumi ke Mars.
Saat aku muter badan dan
pergi cepat, aku deg-degan bukan karena kesel.
Tapi karena… aku menangkap sesuatu di tatapan Yohan.
Sesuatu yang membuatku
merasa… diperhatikan.
Dan aku benci diperhatikan.
***
Di kelas, aku duduk dekat
jendela. Tempat paling aman untuk menjauh dari orang-orang.
Tapi aku bisa ngerasa Yohan
masuk.
Bukan karena aku melihat.
Tapi entah kenapa… aku tahu.
Saat perkenalan, aku sempat
meliriknya.
Dan ya ampun, dia masih ketus.
Tapi ketika pandangan kami
bertemu sebentar, ada hal aneh di dadaku.
Semacam kejengkelan campur rasa penasaran?
Aku langsung membuang
pandanganku. Tidak boleh.
Tidak boleh penasaran sama orang yang baru kutabrak 20 menit lalu.
***
Tapi kemudian Bu Winda
membagi kelompok acak.
Dan tentu saja—karena
semesta suka ngetawain aku—
AKU SEKELOMPOK DENGAN SI YOHAN ITU.
Ya Tuhan, sabarilah aku.
“Astaga…” kudengar dia memijat
pelipis.
Aku pura-pura nggak dengar.
Padahal kupingku panas.
Aku sok tenang. “Jangan
ribut ya, gue capek.”
Dan tentu saja dia jawab,
“Capek nabrak orang?”
Aku ingin lempar buku.
Tapi aku cewek baik.
Katanya.
Masalahnya, semakin lama aku
berada dekat dia, semakin aku sadar bahwa mulutnya nyolot, tapi tatapannya
jujur. Dan itu yang membuat aku tertekan.
Saat aku minta dia ambilkan
buku, aku memerintah tanpa sadar.
Kebiasaan, mungkin.
Tapi ketika dia menuntut aku bicara baik-baik dan aku harus mengulang permintaan
dengan sopan, aku hampir malu sendiri.
Tapi ketika dia tersenyum
puas, untuk pertama kalinya sejak pagi itu, aku tidak bisa memalingkan
pandangan. Senyuman itu sehausnya tidak terlihat menarik.
Aku buru-buru membuang muka.
“Aneh,” gumamku.
Tapi kupikir dia tidak
dengar.
Istirahat siang, aku makan
sendiri di kantin. Teman? Belum ada. Aku bukan tipe yang gampang deket sama
orang.
Aku sempat menoleh ke arah
pojok kantin.
Yohan duduk sama Bima, makan bakso sambil ngobrol.
Entah mengapa, mereka terlihat menyenangkan.
Aku balikin fokus ke
makanan.
Aku nggak peduli.
Atau, aku pikir begitu.
***
Waktu pulang, aku berdiri
lama di depan pagar sekolah menunggu jemputan.
Aku tidak sengaja melihat Yohan berjalan ke parkiran bareng Bima.
Tapi kemudian…
Seseorang memanggil namanya.
“Yohan!”
Cewek berkepang dua datang
mendekat sambil tersenyum lebar.
Anbiya.
Namanya aku dengar dari jauh.
Ada sesuatu di caranya
menatap Yohan.
Sesuatu yang lebih dari sekedar temen.
Aku tidak kenal mereka.
Tapi cara mereka bertiga bercanda…
kerasa seperti lingkaran yang tidak bisa kumasuki.
Aku tidak tahu kenapa dadaku
terasa aneh.
Bukan cemburu, jelas bukan.
Kenal aja baru sehari.
Tapi seperti…
ada jarak yang tiba-tiba tercipta antara aku dan sesuatu yang bahkan belum
kumulai.
Yohan sempat menoleh ke arah
gerbang.
Ke arahku.
Aku buru-buru memalingkan
wajah.
Sial.
Kenapa aku melakukan itu?
Di mobil, aku menatap keluar
jendela, memikirkan kejadian pagi tadi.
Aku kesal.
Tapi… ada rasa lain yang menempel dan susah dilepas.
Tatapan dia.
Senyumnya tadi.
Suara dia waktu menggoda.
Seharusnya semua itu cuma
menjengkelkan.
Tapi kenapa…
malamnya, saat aku mencoba tidur, aku malah memikirkan ulang kejadian itu?
“Besok jangan ketemu dia
lagi,” gumamku.
Namun semesta pasti bilang:
“Oh, sayang… kamu akan ketemu dia terus.”
Dan aku tidak tahu apakah
aku siap.
Atau mungkin…aku justru akan
sangat siap.
Komentar
Posting Komentar