CHAPTER 4: API MEMBESAR
Keesokan paginya, aku datang ke sekolah tanpa ekspektasi apa pun. Sama seperti biasanya. Sama seperti hari-hari lain ketika aku pikir semuanya berjalan normal.
Tapi ternyata tidak.
Begitu aku menjejakkan kaki di gerbang SMA Sriwijaya, hal pertama yang kulihat adalah dia.
Adelia.
Cewek yang bikin hidupku naik turun kayak grafik saham global dalam semalam.
Ia berdiri di depan kelas dengan tangan terlipat, seolah menungguku lewat hanya untuk memulai peperangan kecil kami sehari-hari. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi, wajahnya sudah setengah kesal padahal aku belum melakukan apa-apa.
“Bagus,” gumamku. “Pagi-pagi udah ada masalah.”
Bima yang berjalan di sampingku ngakak.
“Bro… itu namanya bukan masalah. Itu namanya takdir.”
“Takdir apaan?”
“Takdir lo ribut tiap hari ama cewek yang sama.”
“Bim, sumpah gue lagi nggak mau berantem.”
Tapi tampaknya semesta punya selera humor sendiri.
Karena begitu aku lewat, Adelia langsung meluncurkan kalimat khas penyulut pertengkaran kami.
“Lu sengaja ya jalan nyerempet meja gue kemarin?” katanya sambil menyipitkan mata.
Aku mendengus. “Meja lu tuh ada di tengah jalan. Gue mau lewat nggak mungkin nge-teleport, Del.”
“Oh jadi salah gue sekarang?” Adelia menaikkan dagu.
“Bukan salah siapa-siapa, cuma meja lu aja kegedean,” balasku cepat.
“Meja gue standar, otak lu aja yang nggak standar.”
Bima langsung menjauh dua langkah.
“Waktunya gue menjauh sebelum kena peluru nyasar,” bisiknya tanpa rasa bersalah.
Aku menatap Adelia.
Adelia menatap balik.
Entah kenapa, tiap kami saling beradu pandang, ada percikan yang susah dijelaskan. Api kecil yang muncul begitu cepat, seolah udara di sekitar kami penuh bensin.
Dan entah kenapa juga, aku…
kayak ketagihan lihat dia kesel.
“Udah ah, gue males debat,” ujarku sambil lewat.
“Yaudah jangan cari masalah kalau males debat,” balasnya—masih nyolot.
Aku hampir ingin menjawab, tapi bel berbunyi.
Pertandingan babak pagi selesai.
Untuk sementara.
Komentar
Posting Komentar