CHAPTER 2: BENTURAN
Hari Senin pagi biasanya sudah cukup menyebalkan tanpa perlu ditambah drama. Tapi entah kenapa sejak masuk SMA Sriwijaya, hidupku seperti punya bakat alami ketemu masalah baru dan biasanya sumber masalah itu selalu sama.
Adelia Anzani.
Cewek dengan rambut bergelombang yang selalu rapi, suara yang tajam kayak bel sekolah, dan tatapan yang entah kenapa selalu kayak menilai kehidupanku dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Dan ya… setiap kali kami berinteraksi, pasti ada aja yang bikin aku naik darah.
Hari ini pun begitu.
“Yohan!” Suara Bima memanggil dari belakang. “Bro, kelas Matematika pindah ke lab.”
Aku mengangguk sambil mempercepat langkah. “Iya, gue tau..”
BRUGG!
Aku menabrak seseorang di tikungan koridor. Buku-buku berjatuhan, suara cewek itu terdengar jelas kesal, tajam, dan sangat familiar.
“Ya ampun, Yohan! Mata lo dipinjemin siapa sih?”
Aku mendongak. Dan tentu saja… Adelia.
Aku menarik napas panjang. “Gue buru-buru.” kataku.
“Terus? Buru-buru bukan berarti harus nabrak orang dong.” Dia mengambil bukunya satu per satu. “Ini sekolah, bukan sirkuit balapan.”
“Ya sorry,” gumamku, malas berdebat.
“Sory? Itu doang?” Adelia mendelik. “Buku gue jadi lecek tau nggak.”
“Tiap hari juga buku lo lecek sendiri,” jawabku spontan.
Dia terdiam beberapa detik. Mata melebar. “Lo barusan nge-jelek-jelekin gue?”
“Gue nge-jelek-jelekin buku lo.” balasku menentang.
“Bedanya apa, Yohan?!” ujarnya kesal.
“Gak jelas banget sih, Del.” ucapku sambil menggelengkan kepala.
Bima akhirnya mengejar kami, dan langsung menghela napas begitu melihat posisi kami, aku dengan tampang kesel, Adelia dengan ekspresi siap perang dunia ketiga.
“Awal minggu yang indah,” gumam Bima lirih.
Jam pelajaran berjalan seperti biasa kecuali fakta bahwa setiap kali aku menoleh sedikit, Adelia masih ngasih tatapan menusuk macam CCTV yang lagi mantau maling. Aku bener-bener gak ngerti kenapa cewek itu hidupnya kayak penuh energi untuk berantem sama aku.
Sampai akhirnya pelajaran Biologi datang.
Ibu Sinta masuk kelas, membawa setumpuk kertas.
“Anak-anak, minggu ini kita mulai proyek kelompok. Berdua ya. Ibu sudah bagikan daftar pasangan. Tidak bisa protes, tidak bisa tukar.”
Aku langsung merasa ada firasat buruk.
Nama pertama yang dibacakan bukan milikku, tapi aku tetap pasang telinga.
“Bima Satria… dengan Naila.”
Bima terlihat tenang.
Lalu tibalah saatnya.
“Yohan William… dengan Adelia Anzani.”
Kepala langsung menunduk.
Dari seberang meja, aku dengar Adelia bergumam rendah, “Ya ampun, nasib apa ini.”
Aku mengangkat wajah. “Percaya gue, gue juga gak bahagia.” sahutku malas.
“Ya udah bagus, berarti perasaan kita sama.” Dia memutar mata.
Setelah kelas bubar, aku menghampiri meja Adelia lebih ke terpaksa daripada niat.
“Kapan ngerjain proyeknya?” tanyaku seolah itu hal paling berat di dunia.
“Terserah lo,” jawabnya singkat.
“Jumat?” tanyaku santai.
“Gue ada les.”
“Kamis?” tanyaku (lagi).
“Gue ada kegiatan OSIS.”
“Hari apa yang lo kosong, Del? Biar jelas.” tanyaku, memastikan.
Dia menatapku lama, seolah mempertimbangkan apakah hidupku layak diberi jawaban.
“Rabu… habis pulang sekolah,” katanya akhirnya.
“Oke.” jawabku fix.
“Tapi jangan telat. Gue males nunggu orang yang gak bisa atur waktu.” katanya tegas.
Aku mendengus. “Lo tuh ngomong biasa aja bisa gak sih?”
Adelia menyilangkan tangan. “Gue cuma jujur.”
“Jujur atau jutek?” tanyaku.
“Kalo lo ngerasa kena, itu masalah lo.”
Aku memejamkan mata sebentar. “Ya udah, Rabu. Selesai.” ucapku tidak mau ribut.
Dia mengangguk singkat, seperti menyetujui perjanjian damai sementara sebelum kita perang lagi.
Komentar
Posting Komentar